A homepage subtitle here And an awesome description here!

Friday, April 29, 2016

Membaca dan Menganalisa: The Blue Light. Siapa Protagonisnya? Siapa Antagonisnya? Siapa Korbannya?

The Blue Light atau Lentera Api Biru adalah versi Grimm Bersaudara dari sebuah cerita rakyat yang bisa dikatakan ditiru oleh Andersen dalam dongengnya Fyrtoejet atau The Tinderbox.

Pada abad ke-19 munculnya aliran Romantisme membangkitkan kembali ketertarikan pada cerita rakyat. Dua bersaudara Grimm, Jacob dan Wilhelm, yang adalah pakar bahasa, periset budaya dan penulis Jerman, mengkhususkan diri untuk mengkoleksi dan menerbitkan cerita rakyat Jerman. Antara tahun 1812 dan 1857, koleksi perdana mereka direvisi dan diterbit-ulang berkali-berkali, sehingga berkembang dari 86 cerita menjadi 200 cerita. Grimm bersaudara inilah yang mempopulerkan cerita-cerita seperti Cinderela, The Frog Prince, The Goose-Girl, Hansel and Gretel, Rapunzel, Sleeping Beauty dan Snow White.

The Blue Light adalah salah satu dari dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara. Dongeng ini merupakan variasi dongeng Aladdin dari kisah Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights. Koleksi dongeng-dongeng Arab dan Persia diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis pada tahun 1704-1717. Dongeng-dongeng itu menjadi sangat populer pada masa tersebut, meninggalkan jejak-jejaknya di alam bawah sadar masyarakat Eropa dan dalam berbagai karya sastra Eropa. Dalam artikel ini, saya mengklaim bahwa dongeng-dongeng Andersen yang khas Eropa dan sebagian kental pengaruh Kristen-nya bisa diterima di seluruh dunia, karena ada kebenaran-kebenaran universal di dalamnya. Demikian pula dongeng-dongeng dari Arab dan Persia yang kental pengaruh dan budaya Islam-nya dapat menembus Eropa dan menjadi sangat populer sehingga mempengaruhi budaya literasi dan alam bawah sadar masyarakatnya. Bayangkan, itulah kekuatan dari cerita.

Di blog Kampung Fiksi, pada setiap hari Jumat saya akan mulai menulis dan meresensi secara singkat dongeng-dongeng dari Eropa yang belakangan ini sedang saya pelajari. Ternyata ada sebuah model yang biasanya dipakai untuk menganalisa sebuah dongeng. Namanya the actantial model. Bentuknya seperti ini:


Selain model actantial ini, struktur cerita dongeng umumnya memiliki pola: Home - Away - New Home. Atau Rumah - Pergi dari rumah - Rumah baru.

Mari kita coba menganalisa The Blue Light dengan mempergunakan the actantial model. Kalau mau membaca dongengnya, yang sudah saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, silakan baca di sini: Membaca dan Mereview Dongeng: The Blue Light. Di sini saya hanya akan menceritakan kembali secara singkat jalan cerita dongeng tersebut.

Ada seorang prajurit yang setia kepada rajanya tetapi karena luka-lukanya dalam peperangan ia tidak lagi berguna dan dibebastugaskan tanpa diberi uang pesangon. Prajurit ini lalu berjumpa dengan penyihir dan diberi tiga tugas sebelum akhirnya memperoleh si lampu biru dan bertemu dengan gnome. Gnome menolong prajurit membunuh penyihir dan membalas dendam kepada raja. Selama tiga malam prajurit memerintahkan gnome untuk menculik putri raja dan menjadikan putri raja sebagai pelayannya. Setelah tiga kali melakukan penculikan, prajurit tertangkap dan hendak dihukum mati. Sebelum dihukum mati prajurit berhasil memanggil gnome yang diperintahkannya untuk menghukum orang-orang yang hendak menghukumnya, termasuk raja. Raja yang ketakutan kemudian menyerahkan seluruh kerajaan beserta pasukannya kepada si prajurit dan memberikan putrinya menjadi istri prajurit.

Apakah dongeng The Blue Light dengan patuh mengikuti model actantial? Apabila dilihat secara sepintas lalu, dongeng ini memang memenuhi unsur-unsur yang ada di dalam model actantial. Mari kita bahas. Pada awal cerita kita langsung dipertemukan dengan si prajurit yang merupakan tokoh utama dan penerima. Prajurit berada di 'rumah' saat ia bersama-sama dengan raja. Tetapi sejak awal cerita dimulai, kita sudah diajak untuk menyaksikan bahwa si prajurit diusir keluar dari rumah tersebut. Dia bertemu dengan halangan pertamanya yaitu si penyihir yang memberinya tiga buah tugas. Tugas-tugas ini kemudian membawanya bertemu dengan penolongnya yaitu si gnome. Gnome membantu prajurit membunuh musuh pertamanya si penyihir. Kemudian, gnome mengerjakan tiga buah tugas untuk prajurit, yaitu selama tiga malam ia menculik putri raja. Ketika prajurit tertangkap dan dipenjarakan, prajurit bertemu dengan penolongnya yang kedua yaitu temannya yang dimintainya tolong untuk mengambilkan api biru. Dengan mempergunakan si gnome, prajurit kemudian berhasil dibebaskan dari hukuman dan raja menghadiahkan kerajaan, pasukan dan putri raja untuk prajurit. Hal ini menjadikan raja sebagai donor sejatinya dan prajurit mendapatkan rumah yang baru.

Kelihatan sangat simple bila mempergunakan the actantial model sebagai acuannya. Dan model itu memang hanya sebagai acuan untuk menganalisa cerita, sebab sebenarnya cerita ini tidaklah sesederhana seperti yang kelihatan.

Pada cerita ini jelas kelihatan si prajurit bukanlah tipe pahlawan ideal. Dia tidak gagah perkasa, sebab luka-luka yang dialaminya di waktu perang rupanya memang membuat tubuhnya lemah sehingga saat harus bekerja dia tak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Dia juga bukan tipe kekasih yang romantis, caranya memperlakukan putri raja sungguh tegaan dan bengis. Pakai acara culik-menculik pula, sungguh pantas sebetulnya dia masuk penjara, kan? Jelas sekali prajurit ini adalah protagonis yang warnanya abu-abu.

Bagaimana dengan tokoh antagonisnya? Raja dan penyihir sama-sama merupakan tokoh-tokoh antagonis bagi si prajurit, tetapi keduanya juga sama-sama menjadi donor bagi prajurit. Penyihir menjadi donor saat membuat prajurit memperoleh api biru. Sedangkan raja menjadi donor terbesar dalam hidup prajurit karena memberikan istana, pasukan dan istri.

Memang di dalam model actantial tidak disebutkan adanya korban atau yang dikorbankan, hanya disebutkan adanya obyek, yaitu apa yang diperoleh oleh protagonis sebagai penerima. Putri raja masuk dalam kategori sebagai obyek yang diserahterimakan oleh raja untuk menyelamatkan hidupnya sendiri. Putri raja ini yang nampaknya telah menjadi korban dan dikorbankan. Gnome yang berasal dari api biru, selain sebagai penolong ia juga merupakan korban, karena ia menjadi alat yang dipakai oleh si prajurit untuk mencapai keinginan-keinginannya yang bertentangan dengan saran-saran baik dari gnome.

Tuesday, April 26, 2016

Mengapa Dongeng Merupakan Hal Yang Penting dan Dimana Mencari Kebenaran? Dari Christian Andersen, Carl Ewald dan Isabel Allende, Belajar Tentang Gairah Untuk Menemukan Kebenaran Melalui Cerita

Dalam TED-talk berjudul The Tales of Passion, salah satu pengarang novel favorit saya, Isabel Allende yang menjadi pembicaranya, membuka pembicaraan tersebut dengan mengutip sebuah peribahasa Yahudi:

What is truer than truth? Answer: The story. 

Selanjutnya, Allende berkata:

I'm a storyteller. I want to convey something that is truer than truth about our common humanity. All stories interest me, and some haunt me until I end up writing them. Certain themes keep coming up: justice, loyalty, violence, death, political and social issues, freedom. I'm aware of the mystery around us, so I write about coincidences, premonitions, emotions, dreams, the power of nature, magic.

Bagi mereka yang familiar dengan karya-karya Isabel Allende pasti dapat langsung memahami apa yang sedang dibicarakannya. Allende memiliki pendekatan yang unik dalam karangan-karangannya. Pemeran utamanya selalu perempuan-perempuan kuat dan gigih dengan latar belakang yang menarik dan berperan sebagai agen perubahan yang harus berjuang keras melawan tradisi dan norma-norma sosial yang membelenggu perempuan dan mereka yang lemah dan dipinggirkan pada umumnya. Itulah cara Allende untuk menunjukkan kepada pembaca apa yang sedang terjadi dan bagaimana kita dapat berusaha untuk menciptakan keadaan yang lebih baik. Melalui karya fiksinya, Allende mengungkapkan kebenarannya dan mengajak kita untuk sama-sama berkaca sehingga kita bisa melihat mana yang salah dan berusaha untuk membetulkannya.

Hans Christian Andersen, pendongeng terkenal dari Denmark, juga selalu berusaha untuk menunjukkan kebenaran melalui dongeng-dongengnya. Dongeng-dongeng Andersen menjadi begitu terkenal luas di seluruh dunia karena nilai-nilai moral universal yang terkandung di dalamnya. Meskipun dongeng-dongeng Andersen sebetulnya kompleks dan tidak sepenuhnya bisa dikatakan hanya dongeng-dongeng sederhana untuk anak-anak, tetapi kebanyakan orang mengira bahwa dongeng hanya untuk konsumsi anak-anak saja. Padahal Andersen menargetkan dongengnya untuk anak-anak dan untuk para orang tua yang membacakan dongeng-dongeng itu untuk anak-anak mereka.

Mari kita ambil contoh dongeng Den Lille Havfrue atau The Little Mermaid. Dongeng ini bercerita tentang seorang putri duyung yang jatuh cinta kepada seorang pangeran sehingga rela menjual suaranya supaya dapat memperoleh jiwa dan sepasang kaki sehingga ia dapat mengejar lelaki impiannya. Ketika akhirnya ia tak dapat menikah dengan pria yang dicintainya, ia memilih untuk menceburkan diri ke laut daripada membunuh orang yang dicintai. Karena ketulusannya itu ia kemudian berubah menjadi buih-buih ombak. Kisah ini sebetulnya begitu kompleks untuk menjadi cerita anak, sehingga kini The Little Mermaid diadaptasi sedemikian rupa oleh Disney dan menjadi versi yang jauh berbeda dibandingkan dengan versi aslinya.

Apa  yang diungkapkan oleh Andersen melalui dongeng ini yaitu mengenai pengorbanan dan ketulusan, juga kenyataan bahwa dalam hidup ini kita tidak selalu memperoleh apa yang kita inginkan, mungkin tidak dengan mudah dipahami oleh anak-anak. Lalu mengapa dongeng itu justru menjadi dongeng Andersen yang paling terkenal hingga saat ini, disamping dongeng The Ugly Duckling atau Itik yang Buruk Rupa, dan dongeng-dongeng lainnya? Sebab dongeng-dongeng dapat diibaratkan sebagai sebuah pintu tertutup yang kuncinya akan diketemukan oleh anak-anak ketika mereka beranjak dewasa. Dongeng-dongeng yang mengandung kebenaran-kebenaran universal ini, akan melekat erat di dalam pikiran, dan tidak mudah terlupakan.

Sebuah cerita berjudul The Story of the Fairy Tale, ditulis oleh Carl Ewald, seorang penulis dongeng, juga dari Denmark, yang muncul setelah Hans Christian Andersen, patut untuk kita simak dan renungkan. Sebab, meskipun cerita ini ditulisnya sekitar akhir abad ke 19 menuju abad ke 20, tetapi cerita ini sangat relevan, terutama untuk saat ini.

MENCARI KEBENARAN (scroll down, please)
Pada suatu waktu di masa kita sekarang ini, Kebenaran tiba-tiba saja lenyap dari muka bumi.

Ketika banyak orang menyadarinya, dunia menjadi gempar sehingga diutuslah lima orang paling bijaksana di seluruh dunia untuk menemukan Kebenaran. Kelima orang bijak ini diutus pergi ke seluruh penjuru bumi, dibekali dengan niat baik dan uang yang cukup membiayai seluruh perjalanan mereka untuk sepuluh tahun.

Setelah sepuluh tahun lamanya berkeliling dunia, kelima orang bijak itu kembali. Dari kejauhan mereka sudah melihat kedatangan masing-masing. Mereka saling melambaikan tangan sambil berseru kegirangan mengabarkan bahwa mereka masing-masing berhasil menemukan kebenaran.

Orang bijak pertama maju dan menyatakan bahwa ia sudah menemukan Kebenaran. Kebenaran adalah Ilmu Pengetahuan! Namun sebelum ia sempat menyelesaikan laporannya, orang bijak kedua menyikutnya dan mendorongnya sambil mengatakan hal itu adalah kebohongan besar, sebab kebenaran adalah Agama! Ini membuat orang bijak pertama menjadi sangat marah, sehingga mereka mulai bertengkar. Saat keributan itu mulai, orang bijak ketiga pun maju menengahi, ia berkata, Kebenaran bukan Ilmu Pengetahuan, bukan juga Agama. Kebenaran yang sesungguhnya adalah Cinta. Namun pernyataannya segera dibantah dengan ketus oleh orang bijak yang keempat. Orang bijak yang keempat ini dengan bangga menyatakan ia sudah mengantongi kebenaran. Dari dalam sakunya dikeluarkannya bongkahan emas, Kebenaran yang nyata adalah Emas, sedangkan hal-hal lain hanya permainan anak-anak yang tak masuk akal. Lalu berdirilah orang bijak yang kelima, namun dia tak dapat berdiri tegak, tubuhnya sempoyongan seperti sedang mabuk. Sambil tertawa-tawa orang bijak kelima ini berkata, semuanya salah. Kebenaran yang paling benar ada di dalam Anggur.

Demikianlah kelima orang bijak itu tak dapat menemukan kesepakatan tentang Kebenaran sehingga mereka mulai bertengkar, beradu argumentasi dengan sangat kerasnya. Lama kelamaan adu mulut itu menjadi adu jotos yang sangat brutal, tak lagi pantas untuk ditonton. Ilmu Pengetahuan kepalanya bocor. Cinta diserang habis-habisan sehingga compang-camping dan harus membersihkan diri  dahulu sebelum dapat tampil lagi di muka umum. Emas dilucuti dan ditemukan bahwa emas itu palsu. Botol Anggur dipecahkan hingga anggurnya tumpah ke tanah berlumpur. Tetapi yang paling menyedihkan adalah nasib Agama. Semua orang menyerang dan mengolok-oloknya sehingga ia nyaris kehilangan imannya.

Tak perlu waktu lama bagi orang banyak untuk mulai berpihak. Ada yang berpihak kepada yang ini, ada yang berpihak kepada yang itu. Lalu pertengkaran pun dilanjutkan kembali. Masing-masing pihak saling berteriak kepada pihak lain sehingga mereka tak lagi dapat saling melihat maupun mendengar karena begitu hebatnya kegalauan yang tercipta.

Tapi, di sebuah sudut dunia, duduklah sekumpulan orang yang sedang berduka. Mereka berduka karena mereka pikir Kebenaran sudah tamat, ia sudah tercabik-cabik dan tak mungkin lagi dapat menjadi utuh kembali.

Saat mereka sedang berputus-asa, datanglah seorang gadis kecil sambil berlari-lari. Gadis itu berkata ia sudah menemukan Kebenaran! Kalau saja mereka mau mengikutinya ke suatu tempat yang tak terlalu jauh letaknya dari tempat mereka duduk, mereka akan menemukan Kebenaran. Kebenaran sedang menunggu mereka di sehamparan padang rumput hijau.

Mendadak pertengkaran pun terhenti. Gadis kecil itu kelihatan sangat manis, sehingga mereka ingin mempercayainya. Satu persatu mereka berangkat mengikutinya. Semakin banyak orang pergi menuju ke padang rumput tempat Kebenaran sedang menunggu mereka.

Sesampainya mereka di sana, mereka melihat satu sosok yang tak pernah dapat mereka bayangkan sebelumnya. Saat melihatnya mereka tak dapat menebak apakah ia seorang laki-laki atau seorang perempuan, apakah dia seorang dewasa atau masih kanak-kanak. Dahinya begitu murni dan bersih, seakan-akan ia tak pernah mengenal dosa. Matanya dalam dan serius seakan-akan ia sudah membaca isi hati seluruh dunia. Ketika mulutnya terbuka dan menyunggingkan senyum, itu adalah senyuman paling gemilang, namun kemudian senyum itu tenggelam digantikan getaran kepedihan tiada tara. Tangannya selembut tangan ibu dan seperkasa tangan seorang raja. Kakinya mantap menjejak tanah, namun tidak sekalipun menghancurkan sekuntum bunga. Dan ia memiliki sepasang sayap yang besar dan lembut, seperti sayap-sayap para burung malam.

Ketika semua orang sudah berkerumun mengelilinginya, sosok itu menegakkan tubuhnya dan berkata dengan suara yang bagaikan gema lonceng.

"Akulah Kebenaran."

"Itu Dongeng!" Kata Ilmu Pengetahuan.

"Itu Dongeng!" Seru Agama, Cinta, Emas dan Anggur.

Lalu kelima orang bijak dan pengikutnya masing-masing,  pergi meninggalkan tempat itu dan melanjutkan pertengkaran hebat mereka hingga mengguncang seisi dunia.

Tetapi beberapa orang tua yang sudah makan asam-garam kehidupan, beberapa anak muda yang dipenuhi rasa ingin tahu, dan ribuan anak-anak dengan mata yang jernih dan terbuka lebar, orang-orang ini tetap tinggal di padang rumput itu bersama-sama dengan Dongeng, bahkan hingga hari ini.


Cerita yang indah kan? Dan patut untuk kita renungkan bersama. Terutama di saat-saat sekarang ini. Ketika kebenaran versi masing-masing cenderung untuk memecah-belah dan membuat kita bertengkar hebat karena mempertahankan kebenaran masing-masing, dongeng justru bersifat komunal. Dongeng menembus sekat-sekat, ia mengumpulkan kita dan mengajarkan kita untuk mendengarkan, untuk mengkaji tanpa memaksakan dogma sebab kita diberi kebebasan untuk melakukan interpretasi. Kita diberikan kebebasan untuk mengambil apa yang diberikannya dan menjadikannya bekal dengan bentuk yang paling sesuai untuk hidup kita masing-masing sesuai dengan pemahaman kita masing-masing. Ia mempersatukan, tanpa menyeragamkan. Itu sebabnya, dongeng-dongeng Hans Christian Andersen, dapat diterima di seluruh dunia, meskipun dongeng-dongeng itu khas Eropa dan kental pengaruh Kristennya, tetapi kebenaran-kebenaran universal yang terkandung di dalam cerita-cerita ini menembus batas-batas budaya, agama dan waktu.

Friday, April 08, 2016

Being Single Is Not A Crime: Menjawab "Jomblo Juga Manusia! Ini Dia 9 Hal Yang Tidak Seharusnya Kamu Katakan Kepada Seorang Jomblo!" Oleh Ria The Chocolicious

Dalam entri Jomblo Juga Manusia! Ini Dia 9 Hal Yang Tidak Seharusnya Kamu Katakan Kepada Seorang Jomblo!, penulis Ria Tumimomor a.k.a Ria The Chocolicious, seorang food blogger sekaligus ahli dan praktisi (haha) jomblo, sama kayak saya, mengomel panjang lebar tentang betapa mampunya sebagian orang dalam masyarakat kita berlaku tidak sopan terhadap mereka (kami) yang masih melajang. Dan hal itu terasa dalam banyaknya meme-meme yang beredar, yang menjadikan status lajang sebagai bahan bulan-bulanan. Entah apa salah dan pelanggaran hukum berat apa yang sudah dilakukan oleh para lajang sehingga menerima perlakuan tak adil dan semena-mena itu. Ihiks...



Monday, April 04, 2016

Mengapa Memperbaiki Pompa Listrik Yang Tiba-tiba Tidak Mau Berfungsi Tidak Cukup Dengan Berdoa Saja? Ini Alasannya.


Masih ingat kenyinyiran saya tentang banjir di tetangga sebelah? Kalau lupa, mari saya ingatkan kembali.

Beberapa minggu yang lalu, saat hujan masih rajin turun, daerah tetangga sebelah kebanjiran. Apakah ada yang luar biasa kalau tetangga sebelah kebanjiran? Nggak juga, sebab banjir besar kayak gitu memang sudah tradisi, sudah jadi acara silaturahmi tahunan.

Dan apa kata gubernur tetangga soal banjir, dia bilang semoga Tuhan nurunin hujannya enggak banyak-banyak sehingga banjir yang menyerbu juga secukupnya saja. Lalu gimana penanganan banjir? Ya tunggu aja, hujan juga bakalan berenti, banjir pasti ikutan berenti. Simple kan? Terima nasib lah, ini kan bencana alam tahunan yang memang harus diterima-terima aja. Sungai penuh sampah? Jangan diapa-apain, kesian masyarakat yang sudah rajin buang sampah di sana, masak nggak dihargai?

Pak Gubernur yang terkenal saleh itu lebih suka berharap sama kebaikan hati Tuhan. Berharap Tuhan lebih bijaksana saat nurunin hujan, nggak buka keran air hujan sekencang-kencangnya, mengingat kondisi daerahnya yang barokah. Harus gitu kalau pemimpin yang saleh, bergantung sepenuh hati kudu sama yang di atas, ketimbang susah-susah bersihin sampah. Enakan gitu dong. Kenapa? Sebab kalau Tuhan mau, keajaiban bisa terjadi, sisbroooh! Biar kata sampah menyumbat seluruh sungai, daerahnya ga akan kebanjiran sebab mujizat itu nyata!!! *Singing halelujah!* Amin sodara!!! Take beer! Cheers!