Posts

Featured Post

The Game We Play, Refleksi Setelah Menonton Game of Thrones

Image
Dua minggu belakangan ini, saya mulai menonton ulang Game of Thrones, sambil ikut menunggu season terakhir dari serial ini. Game of Thrones, di balik adegan-adegan saling bunuh dan adegan seks yang secara brutal mempertontonkan tubuh-tubuh yan terbelah maupun tubuh-tubuh telanjang sepanjang hampir semua episodenya, sebetulnya adalah cerita tentang politik, tentang bagaimana bertahan hidup dalam sebuah dunia yang brutal. Dalam dunia Game of Thrones, kebaikan, kebenaran, kehormatan dan cinta saja tidak cukup untuk membuat seorang tokoh bertahan hidup. Tokoh yang tidak punya ambisi untuk menjadi the ruler of the 7 kingdoms, tidak pantas untuk tetap hidup, meskipun menurut perasaan kita, dia adalah tokoh baik yang kita sukai dan harapkan menjadi lebih dari sebuah kepala terpenggal yang dipancang di atas tombak.

Percayalah, kalau Ned Stark saja bisa berakhir tragis, apalagi Robb Stark yang saat ditanya apa yang akan dia lakukan setelah memenangkan perang, menjawab dia akan kembali ke Winte…

Tentang Kematian

Kematian selalu terasa mengganggu. Sebuah interupsi yang tidak menyenangkan. Terutama ketika kematian itu datangnya tiba-tiba, di usia yang masih sangat muda. Atau menimpa orang-orang yang sehat dan baik-baik saja, kemarin masih bertegur sapa, hari ini dengar berita sudah meninggal. Kaget? Pastinya. Ada rasa nyesss di dada. Sulit untuk langsung mencocokkan realita dengan ekspektasi. Ekspektasi kita semua setiap hari pasti sama semua, masih ada besok (makanya kita nggak takut-takut menunda sesuatu) alias kita masih bernafas dan baik-baik saja, demikian juga orang-orang yang selama ini di sekitar kita. Kenyataan seringkali berbeda. 
Hari ini salah satu teman yang kenalnya di dunia maya dan belum pernah ketemu, meninggal dunia. Dia masih muda. Kabarnya, meninggal mendadak karena sakit jantung. Kaget banget mendengar berita itu. Baru baca cuitannya kemarin. Hari ini nggak bakal ada lagi cuitan baru darinya yang akan lewat di linimasa saya.
Hidup ternyata bukan ditentukan sama seberapa tuany…

Afi, Fatamorgana Yang Kita Ciptakan Sendiri

Saya mau cerita tentang para tukang nyontek yang fenomenal, teman suka nyontek tapi tetap aja gagal dan hubungan ini semua dengan fenomena Afi yang sedang serujadi bahan gunjingan. As usual, kalo postingannya panjang, saya bakalan ngelantur ke sana dan ke sini. Namanya juga potongan-potongan pokok pikiran, jadi boleh-boleh aja alurnya lompat-lompat kan? *Suka-suka elu lah G!*

Nyontek. Siapa yang nggak pernah nyontek saat sd, smp, sma dan kuliah? Saya berani banget taruhan bahwa cuma sebagian yang bakal angkat tangan dan bangga bilang 'gw enggak!', saya termasuk salah satunya. Cieh G, cieh... Hahaha... sumpah di atas kepala nenek lo, saya memang BUKAN tukang nyontek, ga pernah sibuk bikin krepekan, ga pernah mau nyalin hasil kerjaan orang. Heibat bukan? BUKAN! Sebab selain nggak mau nyontek, saya juga ga rajin belajar, dan ga perhatian sama guru kalo di kelas, yayaya...ketebak lah kalo nilai ujian jebloook adalah garansinya. Semasa smp, saya bahkan seharusnya nggak naik kelas d…

Selamat Ulang Tahun Ahok!

Image
Hari ini, tanggal 29 Juni, Ahok, gubernur Jakarta yang kalah dalam pilkada beberapa bulan lalu, kemudian didakwa bersalah untuk kasus penodaan agama, berulangtahun yang ke-51 tahun. Ternyata, bedanya cuma 2 tahun dengan saya,yang berulangtahun ke-49 beberapa hari yang lalu. Tapi kalau bicara soal pengalaman hidup, dalam usianya yang sudah setengah abad lebih setahun itu, Ahok pastinya jauh lebih punya banyak cerita dibandingkan rata-rata orang yang seangkatan dengan kami. Beruntunglah dia. Hidupnya benar-benar sudah dipergunakan habis-habisan untuk melakukan apa yang ingin dan bisa dilakukannya untuk negara yang dia cinttai ini.

Melihat sepak-terjang Ahok, saya jadi berpikir, itu cara seseorang yang bekerja dengan sepenuh hati, nggak separo-separo. Dia nggak suam-suam kuku, dia berani maju menerjang segala rintangan dan menerima resikonya meskipun resikonya ternyata berat juga. Dipenjara dua tahun, yang ironisnya, justru menunjukkan apa yang menjadi keprihatinannya ternyata benar: mu…

Hanya Ada 2 Macam Tipe Manusia, Pilihan Ada Di Tangan Kita

Percaya nggak percaya, hanya ada dua macam tipe manusia,yaitu:
1. Tipe Yang Tepat. Tipe ini biasanya selalu berusaha keras untuk tidak mengecewakan. Mereka akan melakukan apa yang harus dan bisa mereka lakukan untuk membuat suasana jadi menyenangkan, membahagiakan atau memperbaiki apa yang rusak dan membongkar, merubuhkan, membuang apa yang sudah seharusnya dibuang. Pokoknya mereka pasti melakukan hal yang tepat dan memilih jalan yang juga tepat untuk membantu kita mewujudkan atau mencapai sesuatu.
Ini bukan bicara soal cinta-cintaan saja lho... Walaupun harus disadari bahwa sebetulnya dalam soal itu pun gampang untuk menyadari tipe yang tepat itu yang seperti apa, asal kita mau memperhatikan apa yang dilakukannya dan secara sadar mengevaluasi dia membuat kita merasa bagaimana. Kalau orang itu membuat mood kita jadi lebih baik, membuat suasana  di sekitar kita rasanya lebih ringan dan menyenangkan, selalu berusaha untuk membalas perhatian dengan perhatian, selalu menginginkan apa yang…

Instagram: @MyLazySketch

Thank God for Instagram.

Sejak jaman sekolah dulu, catatan saya selalu penuh dengan gambar-gambar, kebanyakan gambar muka orang atau coretan-coretan huruf dan kata-kata yang dihias-hias nggak jelas. Saya yakin, banyak banget yang modelnya seperti saya. Kalau bosen mendengarkan guru, maka ngedoodling aja supaya nggak ketiduran. Bener atau bener? Pasti bener. Dari sekian banyak yang gaya mengatasi kebosanannya sama, saya juga yakin ga terlalu banyak yang kemudian menjadikan menggambar sebagai hobi, apalagi yang kemudian mengejar karir sebagai artis gambar atau ilustator atau disainer dan sebagainya yang ada urusannya dengan menggambar. Terus terang aja, saya menyesali kenapa saya nggak seriusin aja urusan gambar menggambar ini. Seandainya waktu bisa diputar ulang, satu-satunya hal yang akan saya ubah dari hidup saya adalah: menentukan mau kuliah di jurusan apa. Saya inget banget, papa saya pernah bilang, "Usi, mau nggak kuliah Fine Art di New Zealand?" dan saya nggak menanggap…

Firefly Lane & Fly Away, Catatan Tentang Sequel Yang Tak Habis Saya Baca, Karena?

Image
Firefly Lane (***spoiler alert***)
Kathleen Scarlet Mularkey, Kate atau Katie, dan Tallulah Rose Hart, disingkat Tully, menjalin persahabatan sejak kelas 8 (kelas dua SMP) hingga mereka dewasa. Persahabatan ini diceritakan secara apik di novel Firefly Lane. Tully yang egois, mau menang sendiri, selalu fokus mengejar cita-citanya dan mengalami sukses besar dalam karirnya, menjalani persahabatan dengan Kate yang selalu bertindak sebagai pendampingnya, Kate yang lebih lembut, lebih bijaksana dan menginginkan kehidupan tenang. Ketika Kate bertemu dengan John Ryan, yang kelak akan menjadi suaminya, John terpesona dengan Tully dan Kate harus menunggu beberapa tahun sebelum akhirnya mengakui perasaannya kepada John.

Kate dan Tully sama-sama memiliki keraguan dalam soal cinta. Tully, karena selalu diterlantarkan oleh ibu kandungnya, merasa susah untuk percaya seseorang mencintainya dan tidak akan pernah secara sengaja meninggalkannya. Sementara Kate, yang dibesarkan dalam keluarga yang hangat…

Gods of Egypt: Film Jelek Yang Bagus dan Mengasyikkan

Image
Kalau disuruh kasih bintang berapa untuk film ini, saya bakal kasih bintang lima dari lima, bintang sepuluh dari sepuluh, bahkan saya bakal tambahin bulan sekalian di antara bintang-bintang itu. Haha.



Mengapa? Sebab, disamping karena saya termasuk buta-tuli tentang sejarah dan mitologi Mesir kuno selain yang pernah saya baca tentang Cleopatra, atau nonton sekilas-sekilas di Discovery Channel atau nyaris hafal luar kepala tentang gimana hubungan Mesir dan Israel kuno melalui Alkitab, saya juga nggak berharap disuguhi film sejarah serius (serahkan itu kepada History Channel saja deh) ketika memilih untuk menonton Gods of Egypt ini. Saya bahkan nggak punya ekspektasi apa-apa. Mungkin karena itu, maka film ini dengan gampangnya melebihi ekspektasi saya dan membuat saya merasa sangat terhibur. Terpuaskan.






Sebelum era para firaun, Mesir diperintah langsung oleh dewa-dewi. Ra, dewa matahari, menciptakan mesir, semacam taman firdaus dimana dewa-dewi tinggal dan memerintah manusia. Dewa-dewi …